Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Tim Patriot Output 1 memaparkan hasil kajian lapangan terkait penguatan Kawasan Transmigrasi Rante Karua dalam Forum Group Discussion (FGD) di Aula Perpustakaan Daerah Rantepao, Rabu (26/11/2025). FGD turut dihadiri Bupati Toraja Utara, jajaran perangkat daerah, serta perwakilan masyarakat kawasan transmigrasi.
Bupati Tekankan Harmonisasi Program dan Percepatan Penataan Kawasan
Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, menyampaikan apresiasi atas kajian komprehensif UGM yang dapat menjadi dasar penguatan kebijakan daerah. Ia menegaskan bahwa penguatan kawasan transmigrasi merupakan bagian dari agenda strategis pemerintah daerah dalam pengentasan kemiskinan ekstrem, termasuk melalui rencana transmigrasi lokal bagi masyarakat yang tidak memiliki aset maupun akses produktif.
Bupati juga menyinggung tantangan sosial budaya dalam perpindahan penduduk dan pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap kearifan lokal.
"Tujuan kita bukan memaksa masyarakat berpindah, tetapi membuka peluang ekonomi baru agar mereka keluar dari kemiskinan yang menahun,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kajian UGM, termasuk mapping kawasan, konektivitas, dan layanan dasar menjadi pijakan penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah daerah. Peningkatan sejumlah akses jalan juga mulai dilakukan, dan kawasan transmigrasi kini telah terbagi dalam satuan permukiman SP1 hingga SP5.
Potensi perkebunan di Rante Karua pun tidak luput dari perhatian. Dengan rencana pembangunan pabrik kopi tahun depan, masyarakat didorong meningkatkan produksi sebagai langkah kesiapan menghadapi peluang industri tersebut.
Tim Patriot UGM Paparkan Temuan Utama
Dalam paparannya, Tim Patriot UGM menyoroti sejumlah tantangan institusional yang menjadi akar persoalan penguatan kawasan transmigrasi di Awan Rantekarua, seperti:
- Koordinasi lintas sektor yang belum optimal;
- Keberlanjutan program yang lemah, dan
- Lembaga ekonomi lokal (koperasi, BUMLem, kelompok tani) yang belum aktif.
Di sisi lain, masyarakat menunjukkan resiliensi tinggi melalui jaringan informal, meski belum cukup untuk mendorong percepatan pembangunan kawasan.
Ketua Tim Output 1, Ir. Bondan Galih Dewanto, menjelaskan bahwa selama hampir empat bulan tim melakukan survei di berbagai lokasi strategis, termasuk Lembang Awan, Batu Lotong, Buntu Karua, Rindingallo, dan Baruppu’.
“Dukungan masyarakat dan jajaran pemerintah daerah sangat luar biasa. Hal ini memungkinkan kami menyusun rekomendasi yang lebih komprehensif dan sesuai kondisi lapangan,” ungkapnya.
Hasil kajian ini dapat menjadi bahan masukan strategis bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam penataan kawasan transmigrasi dan penguatan kelembagaan pembangunan wilayah. UGM juga menyatakan kesiapan untuk melanjutkan kolaborasi pada tahap-tahap berikutnya.
Diskominfo-SP - 2025













